Author Archive for Dipha A Midian

06
Dec
08

Berdialog dengan Zaman

“…dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’…” (Ali-Imran : 140)

Bagaikan roda yang senantiasa bergulir pada porosnya, zaman senantiasa menawarkan suatu tantangan bagi umat manusia yang hidup pada masanya. Tiap-tiap tantangan, rintangan, cobaan, dan ujian senantiasa meliputi dan menyelimuti serta mewarnai kehidupan yang penuh dengan gemerlap duniawi. Menawarkan tipu daya bagi insan yang terlahir dan menapaki jejak kehidupannya di muka bumi yang fana ini. Ada yang dibinasakan akibat dari perbuatan buruknya yang menyalahi koridor kemuliaan, ada pula yang diselamatkan dan diangkat derajat kebaikannya sampai – sampai nama harumnya senantiasa tersebut dan terucap walau belasan abad telah terlewat. Ingin berada di posisi manakah kita ? Tidak perlu sungkan untuk memilih, walau pada hakikat fitrahnya tiap – tiap pribadi yang memiliki kesalihan pada hatinya akan mendambakan wangi surga yang tiada duanya.

Mari berkaca pada suatu kisah di satu zaman yang dipimpin oleh seorang penguasa dunia yang menganggap dirinya sebagai zat yang patut ditakuti dan disembah oleh sesama makhluk ciptaan, ya dialah fir’aun. Fir’aun menganggap dirinya sebagai pribadi yang berkuasa tanpa batas, memiliki wilayah kekuasaan yang luas, kekuatan militer yang kuat, dan hati nurani yang berkarat oleh karena paradigmanya yang terkufuri oleh tipu daya keburukan. Kejayaannya yang fana tidak berlangsung lama, saat terlahir seorang Musa yang bertujuan menyeimbangkan situasi, meluruskan aqidah, dan menyadarkan para pembangkang akhlakul karimah. Apa yang terjadi ? Tentu saja tak ayal lagi terjadilah benturan antara kebaikan dengan kezaliman. Hasil akhir telak mengakhiri riwayat sang Fir’aun yang terbenam oleh mukjizat sang Musa atas izin sang khalik tentunya.

Akan tetapi pada belahan zaman lain terlahir pula sang khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dalam masa kepemimpinannya mampu menaburkan dan menorehkan kebaikan tiada tara bagi umat manusia. Bayangkan, dalam masa kepemimpinannya yang masih bisa digolongkan singkat yakni sekitar dua tahun lebih lima bulan beliau telah mengeliminasi kebobrokan birokrasi, menyadarkan para kerabat dan pejabat untuk kembali pada tataran amanah yang karimah, mensejahterakan para mustahiq hingga tak ada lagi penerima zakat bagi umatnya yang telah terangkat derajat dan martabatnya. Beliau kini telah tiada tapi nama baiknya terus terucap hingga kini dan nanti.

Ada perbedaan mendasar dari dua kisah kepemimpinan di atas. Ada pemimpin yang memilih untuk menjadi hamba sahaya bagi kesesatan yang menghimpit, namun ada pula pemimpin yang memilih untuk menegakkan kalimatullah dan memakmurkan bumi dengan kemuliaan yang tak terelakkan. Mampukah kita memilih dengan bijak? Di sini letak sorotan yang membutuhkan keteguhan jiwa dan raga. Pilihan senantiasa menghadang, pilihan senantiasa memberikan konsekuensi, pilihan pula yang menjadikan seseorang celaka atau selamat.

Bagaimana dengan kondisi saat ini ? Masih adakah asa yang tersisa ? Silahkan jawab dengan hati nurani yang tegar. Bangsa ini telah dipimpin oleh para pemimpin yang beragam. Telah tercatat pada lembar sejarah perjuangan bangsa yang majemuk ini dalam menegakkan kemerdekaan, setelah dijajah selama lebih dari tiga setengah abad lamanya. Saat para penjajah datang menerjang, tentulah muncul para penegak kebenaran guna menumpas kesewenang – wenangan penjajah tersebut. Berapa banyak nyawa yang telah tercabut, darah yang mengalir, dan air mata kesedihan yang tercucurkan akibat dari perjuangan yang telah terkobar ? Ada yang namanya diabadikan sebagai tokoh sanjungan walau tak sedikit para pejuang yang tak bisa disebutkan namanya satu per satu telah turut serta berjuang dalam kancah pergolakan tersebut.

Itu sejarah masa silam yang telah berlalu seiring berjalannya waktu. Perjuangan mereka telah kita rasakan manfaatnya, namun apakah kita telah membalas perjuangan tersebut dengan prestasi yang sepadan ? Apakah negeri ini telah menjadi negara yang sepenuhnya merdeka ? Akankah terlahir pahlawan yang mampu menjawab tantangan zaman yang terus berkecamuk pada masa kini ? Menjadi bagian dari solusi dari sebuah perkara haruslah dilandasi oleh pola pikir dan pola gerak yang bijak serta sinergis, sehingga implikasi dari suatu cita – cita yang diidamkan mampu terwujud. Mulai dari tiap – tiap individu hingga pada tataran kolektif.

Melalui zaman yang telah berlalu dan yang akan dihadapi, alangkah bijaknya jikalau kita mampu memetik butiran – butiran hikmah yang tersirat dan tersurat agar kita mampu memiliki tolak ukur yang tepat dalam menjawab tantangan zaman. Kita seolah diajak untuk berdialog, nurani kita seperti diketuk, jiwa dan raga seolah hendak bergerak. Persiapkan diri untuk menyambut tantangan tersebut dengan penuh kesiapan serta kesigapan !

Ya tentu saja, bangsa yang siap dalam mengatasi rintangan adalah bangsa yang mampu belajar dan memahami sejarah, situasi, dan kondisi melalui banyak cara yang salah satunya dengan sebuah pendekatan dialog dengan zaman.

08
Nov
08

63 Tahun Sudah Kita Merdeka

Pada tahun 2008 ini tepatnya pada tanggal 17 di bulan agustus Negara kesatuan Republik Indonesia tercinta ini merayakan dirgahayu kemerdekaan untuk yang ke – 63 tahun. Rakyat pun bersuka cita menyambut perhelatan tahunan ini, bendera merah- putih terkibar, perlombaan digelar, situasi pun menjadi riuh rendah diikuti oleh hiruk-pikuk kegiatan yang menyita perhatian banyak pihak seantero negeri kepulauan ini.

Mari kita merenung sejenak…63 tahun berarti lebih dari separuh abad. Teringat oleh umur seorang suri tauladan umat manusia sepanjang zaman yang pada tahun ke 63 beliau menghembuskan napas terakhirnya di dunia yang fana ini pada kurang- lebih 14 abad silam yang tak lain dan tak bukan beliau adalah junjungan kita rasulullah Muhammad Salallahu’alaihi wassalam. Kita lakukan komparasi, dalam kurun waktu 63 tahun banyak prestasi mengagumkan yang telah beliau torehkan dengan tinta emas, beliau telah menjadi seorang pedagang yang sukses, terkenal jujur dan dipercaya, melintas batas jazirah arab, beliau telah menjadi seorang pemimpin keluarga yang adil, beliau telah menjadi seorang panglima perang yang tangguh, pemimpin negara yang ulung, serta beliau telah mengeluarkan umat manusia dari sifat kejahiliyahan menuju akhlakul karimah, dan lebih dari itu semua, beliau adalah utusan Allah guna membawakan risalah yang menjadi tuntunan umat manusia.

Indonesia…63 tahun sudah merdeka namun agaknya masih banyak hal – hal yang harus kita perhatikan secara seksama. Apakah kita sudah lepas dari jeratan utang negara? Apakah anak – anak bangsa ini sudah terlepas dari ancaman busung lapar? Apakah remaja bangsa ini sudah aman dari terjangan budaya global? Apakah para pemimpin dan wakil rakyat negeri ini sudah amanah dan istiqomah dalam memangku jabatan beserta idealismenya? Apakah para hakim peradilan telah memutuskan perkara secara adil? Apakah kesejahteraan telah meliputi bangsa ini? Silahkan…saya yakin jawaban bisa beragam tergantung mau dari sudut pandang manakah kita melihatnya.

Indonesia dengan luas daratannya yang luar biasa luas dari sabang hingga merauke menempati peringkat empat besar negara terkorup di asia, negara dengan tingkat pengrusakan hutan paling tertinggi di asia tenggara, dan negara dengan kasus busung lapar di tengah – tengah lumbung padi yang terhampar luas di negeri ini, negara dengan tingkat peredaran narkoba yang cukup memprihatinkan dan lain sebagainya. Apa yang sebenarnya terjadi? Di manakah letak kemerdekaan tersebut? Apakah cukup dengan mengibarkan bendera? Menyanyikan lagu indonesia Raya? Mengecat ulang gapura? Menghiasi rumah dan lingkungan dengan pernak – pernik? Dengan segala predikat yang tersandang oleh ibu pertiwi ini?

Agaknya kita harus menyegarkan dan merevisi paradigma berpikir kita. Kemerdekaan bangsa ini didapat melalui perjuangan, pengorbanan, tumpahan darah, cucuran keringat, air mata bahkan nyawa. Lain halnya dengan negara tetangga kita di mana kemerdekaan didapat melalui pemberian. Namun anehnya mengapa kita tertinggal jauh dengan negara-negara tetangga yang notabene berada pada kawasan Asia Tenggara ini. Dari segi pendapatan per kapita, anggaran pendidikan, tingkat kesehatan masyarakat kita cukup tertinggal. Lalu apa yang kita perbuat? Merayakannya?

“ Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Al – A’raf : 96)

Berangkat dari ayat tersebut kita bisa mengambil suatu komponen penting agar bangsa ini bisa terselamatkan. Ibu Marwah Daud bilang “sukses bangsa adalah akumulasi sukses individu” sangatlah tepat dengan tuntunan Al-Qur’an kalau saja para penduduk negeri ini mampu beriman dan bertakwa sesuai dengan tuntunan Qur’an dan Sunnah rasulullah maka harapan itu tentulah masih ada. Kalau saja penduduk negeri ini mampu membuang sampah pada tempatnya, tidak merokok sembarangan atau bahkan berhenti merokok, jujur dalam berdagang dan mengemban amanah, disiplin dalam segala lini kehidupan maka kita bisa bangkit! Bangkit dari keterpurukan!

Jim Collins mengatakan “good is the enemy of great” kalau diri saya berpendapat “hey we are not yet good enough, but WE CAN SURELY BECOME GREAT! Mengapa demikian? Karena kita memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, potensi sumber daya manusia strategis, wilayah daratan subur nan hijau bahkan jika dilihat melalui pesawat udara negeri kita ini bagaikan zamrud khatulistiwa dan wilayah maritim yang strategis, serta yang tak kalah penting yaitu kita merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Banyak hal yang bisa kita perbuat demi terciptanya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Salah satunya kita bisa memulai untuk memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu.

Sebagaimana merujuk pada Qur’an surat Al-a’raf ayat : 96 di atas, maka jikalau saja kita bisa mengarahkan negeri ini menuju pada tataran yang Allah ridhoi maka kebangkitan dan kejayaan Islam akan kembali tegak di muka bumi ini.

Wallahua’lam bi showab…

Tulisan oleh : Dipha Aulia Midian (Peserta PPSDMS angkatan IV regional II Bandung)

06
Nov
08

Idealitas Pemuda

Wahai kalian yang rindu kemenangan…

Wahai kalian yang turun ke jalan…

Demi mempersembahkan jiwa dan raga…

Untuk negeri tercinta…

Jika membaca rangkaian kata-kata tersebut di atas maka tak pelak lagi jiwa-jiwa yang merindukan sebuah impian untuk menggapai kejayaan dan kedigdayaan akan terpanggil, tergerak, dan terenyuh, seketika menyingsingkan lengan baju dan kemudian maju berjibaku menuju pada tataran perjuangan dengan harapan akan terbentuknya keadaan yang diidamkan.

Mari merenung sejenak dan tentukan faktor apakah yang harus dipenuhi agar kejayaan dan kedigdayaan tersebut bisa digapai. Tentu saja faktor penggerak! adalah yang kita butuhkan sebagaimana sebuah mesin kendaraan bermotor yang membutuhkan sumber energi bahan bakar. Faktor penggerak yang hendak saya soroti adalah pemuda yang memiliki idealisme kokoh guna mengemban tugas-tugas yang berat di antaranya yaitu membangun peradaban yang gilang-gemilang. Idealisme kokoh tersebut haruslah bersih dan suci, bersih dari kepentingan dunia dan ambisi pribadi yang bersifat pragmatis. Tentu saja tanpa kesucian niat dalam bergerak maka yang kita dapat hanyalah penyakit sebagaimana yang kita semua rasakan saat ini, korupsi merajalela bagaikan adat yang dibiasakan, pungutan liar yang memberatkan para pengusaha dan pelaku ekonomi, birokrasi yang penuh dengan intrik penyelewengan dan lain sebagainya.

Bagaikan menjalani babak baru era penjajahan kita disibukkan oleh ulah para pelaku pengrusakkan segala lini kehidupan bangsa ini mulai dari politik dagang sapi, ekonomi biaya tinggi tanpa diikuti daya beli yang mumpuni, pertahanan dan keamanan yang terus meradang akibat konflik horizontal dan keterbatasan kekuatan militer, tentu saja masih banyak lagi. Pertanyaannya? Sampai kapankah kita semua akan bertahan dalam kondisi memprihatinkan sebagaimana termaktub di atas? Langkah strategis apa yang harus kita perbuat? Di mana peran strategis para pemuda guna memperbaiki keburukan menuju pada babak kegemilangan yang hakiki?

Pada tahun 1928 tepatnya 80 tahun yang lalu para pemuda pejuang yang berasal dari berbagai penjuru negeri ini mengikrarkan sebuah sumpah yang menjadi suatu tonggak pemersatu kekuatan negeri ini. Yang penulis maksud jelaslah sumpah pemuda yang hingga kini senantiasa kita kenang dan dengungkan tiap tahunnya. Pengorbanan yang luar biasa telah ditempuh oleh para pemuda pada zaman mereka. Berjuang demi sebuah asa yang tertanam pada benak tiap pelakunya. Itulah pemuda! Sebegitu pentingnya peran strategis pemuda sebagai sumber daya manusia potensial dalam menggerakkan roda kemajuan era, hingga seorang bapak proklamator kita Soekarno berkata Beri saya sepuluh orang pemuda, maka akan kuubah dunia!” seperti itulah hakikat guna dari kaum pemuda. Dia menjadi bagian dari suatu solusi yang kontributif, inovatif, progresif dan revolusioner, memiliki semangat dan daya juang yang luar biasa hingga dunia pun takluk olehnya.

Berjuang demi tegaknya sebuah cita-cita membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Mengorbankan harta dan jiwa merupakan suatu keniscayaan, jika kita berbicara mengenai suatu tindakan nyata yang dibutuhkan. Jika melihat kembali penggalan kata pembuka di atas, untaian kata-kata tersebut lebih bersifat panggilan, panggilan untuk senantiasa memacu dan memicu segenap jiwa dan raga demi sebuah kebaiakan. Dan kata-kata turun ke jalan di sana jangan juga diartikan secara sempit dan denotatif yang dimaksud dengan turun ke jalan bisa berupa tindakan untuk meniti jalan yang lurus, jalan untuk berjuang, melalui karya nyata yang bisa dibanggakan dan dirasakan oleh segenap negeri ini.

Namun sedikit berkaca pada sebagian pemuda pada masa kekinian. Ketimbang membangun peradaban dan berjuang untuk lepas dari imperialisme modern. Para pemuda kini justru menyimpan banyak masalah. Sejauh ini masalah mereka hanya berkisar pada kebutuhan pribadi, materi yang kurang dan dunia hiburan yang memabukkan. Lebih dari itu, mereka hanya disibukkan pada masalah cinta semu, tontonan cengeng percintaan dangkal dan pembebasan syahwat, tren gaya berpakaian dan kemewahan yang berubah-ubah, serta menikmati jenis musik yang membuat mereka rela berdesak-desakkan hingga terinjak dan mati sia-sia. Tak terngiang sedikit pun sebuah kepedulian nyata terhadap kondisi bangsa yang kian terpuruk. Layakkah hal-hal semacam itu melekat pada diri para kaum pemuka perubahan? Tentu saja jawabannya adalah TIDAK!

Berangkat dari sebuah keyakinan bahwa masih ada bagian lain dari umat ini yang memiliki keberanian dan kepedulian untuk mengatasi keadaan. Menyingsingkan rasa lelah dan maju menghadapi panggung kehidupan yang diliputi oleh ketidaknyamanan. Hingga terbentuknya sebuah zaman kejayaan. Kita para pemuda pasti bisa! Karena kita adalah pewaris peradaban.

Mari kita simak bersama kutipan mutiara dari Dr. Raghib As-Sirjani seorang cendekiawan muslim yang juga sebagai tokoh pemerhati masalah umat menitipkan untaian kebijaksanaan kepada para pejuang yang dibanggakannya beliau berkata Para remaja yang kami cintai…ketika terbersit di hatimu hasrat untuk meraih sukses dunia juga akhirat. Segera mulailah dengan menata hasrat ini menjadi sebuah tujuan besar dalam hidupmu. Serasikan amal perbuatanmu dengannya. Lalu istiqomahlah! Berusaha untuk menjaganya. Jika engkau ingin umat ini maju. Jika engkau ingin mengembalikan kejayaan hakiki. Jika engkau ingin memisahkan kehinaan, kemunduran dan kehancuran yang terus menempel pada tubuh umat ini. Mulailah dari sekarang! Jangan engkau tunda, jangan engkau menyerah dengan tantangan yang menghadang. Mulai! Dan Allah akan segera membuka pintu rahmat untukmu…”

27
Sep
08

Titik Balik dan Momentum

…mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali) (Qs Al-Baqarah : 156). Di bulan ramadhan kita melakukan sesuatu tindakan di luar kebiasaan sehari-hari sebagaimana di bulan-bulan yang lain. Ya, mulai dari subuh hingga maghrib kita menahan diri dari lapar dan dahaga. Tidak hanya itu kita pun diwajibkan untuk berpuasa, menahan bathin kita dari tindakan yang bersifat sia-sia seperti marah, menggunjing, melontarkan kata-kata kasar dan terutama lagi kita harus menahan hati kita dari prasangka yang buruk.
Hari demi hari pun dijalani dengan penuh perjuangan dalam menahan hal-hal yang diharamkan, dengan penuh kesabaran dan niat yang tulus demi menggapai suatu kebaikan terutama dari Allah sang khalik pemilik semesta alam. Di dalam aktivitas berpuasa ini, diharapkan kita mampu mencapai suatu kondisi perbaikan ruhiyah yang selanjutnya tataran derajat ketaqwaan pun kita reguk sebagai suatu kenikmatan hikmah di balik perjuangan di bulan ramadhan tersebut.

Yang perlu digaris bawahi dari bulan ramadhan ini adalah aturan main yang mengikat para pemeluknya khususnya kaum muslimin, dan tidak sedikit pula orang yang menjadikan bulan ini sebagai titik balik untuk memperbaiki diri, baik secara lahir maupun bathin. Selama sebelas bulan sebelumnya banyak kekhilafan yang tertindak dan terucap baik sengaja maupun tidak sengaja. Seringkali kaum muslimin menjadi ahli ibadah. Bersabar di siang hari dan bertarawih di malam hari. Sejatinya kita bertujuan untuk berbekal guna menjalani hari esok pada bulan-bulan berikutnya dengan penuh kehati-hatian. Kita menjadikan satu bulan tersebut sebagai momentum perjuangan melawan keburukan dan kemaksiatan hingga kembalinya diri ini pada fitrah awalnya yang bersih dan suci dari noda ruhani maupun jasadi.
Betapa kegembiraan itu pun terlengkapi dengan ibadah-ibadah baik yang sifatnya diwajibkan maupun yang di sunnahkan. Terutama di sepuluh malam terakhir yang ditengarai di antara malam-malam tersebut terdapat malam lailatul qadar. Malam keberkahan yang setara dengan seribu bulan. Di bulan ini pun kita diperintahkan untuk berbagi kepada sesama melalui mekanisme zakat yang akan dibagikan pada pihak-pihak yang membutuhkannya dan pada akhirnya bulan ini pun ditutup dengan saling bermaaf-maafan satu sama lain.

Ada kegembiraan dalam menyambut bulan ramadhan yang penuh dengan keberkahan yang indah ini dan ada kesedihan yang cukup mendalam saat bulan ramadhan berada pada pucuk akhir perjalanannya. karena ada kekhawatiran bahwa mungkin kita tidak akan dipertemukan kembali oleh bulan yang penuh dengan ampunan ini di tahun berikutnya. Ada pernyatan yang menyatakan bahwa ramadhan pergi meninggalkan kita. Oh ya? Benarkah demikian? Ada beragam pendapat dalam menggapi pernyataan tersebut, salah satu di antaranya adalah sebetulnya ramadhankah yang meninggalkan kita? atau diri kita inikah yang meninggalkan ramadhan? Sejujurnya penulis berpendapat bahwa di bulan ramadhan kita dididik untuk senantiasa disiplin, berkomitmen, memiliki rasa kepekaan dan kepedulian dan yang paling utama adalah kita mampu mengendalikan diri guna mencapai tataran kondisi paripurna yang diridhoi oleh Allah azza wa jalla. Dari pendidikan tersebut diharapkan adanya suatu nilai yang senantiasa berbekas pada diri tiap-tiap orang yang menjalaninya dengan penuh ketaatan dan keikhlasan.
Kalau memang kita mampu menjaga diri kita dari hal-hal yang diharamkan dengan segala daya dan upaya yang terejawantahkan dalam kehidupan sosial kita sehari-hari khususnya di bulan ramadhan yang penuh dengan peraturannya yang menyeluruh. Kita pun seharusnya mampu mereduksi efek negatif pada bulan-bulan berikutnya dengan menjadikan diri yang sudah terbekalkan melalui satu bulan yang penuh dengan perjuangan (ramadhan). Kita pimpin diri kita masing-masing menuju pada ketaqwaan pribadi dan sosial yang sudah terbentuk pada saat ramadhan tadi sehingga jelas klita senantiasa menghadirkan ramadhan pada hati dan jiwa kita walaupun bulan itu sudah terlewat.
Mulai dari momentum ramadhan kita lalui sebuah alur kehidupan yang penuh dengan lika-liku hikmah dan perjuangan. Perjuangan untuk menanamkan kebaikan jati diri, kejujuran terjunjung tinggi dan kebaikan pun tertebar pada segala lini kehidupan yang fana ini. Guna membekali diri yang tidak hanya untuk sekedar menghadapi kemilau dunia yang membutakan hati tiap pribadi. Namun juga sebagai bekal saat kita sudah terlelap selamanya, terbungkus oleh kain kafan, dan terkubur di dalam ruang gelap yang rapat.

Sudah sampai manakah kesiapan kita saat kelak menghadapi pengadilan yang tidak akan terelakkan bagi tiap insan bernyawa yang pernah menapaki kehidupan di bumi yang luas ini? Akankah kita kambali dalam keadaan su’ul khatimah ataukah dalam tatanan khusnul khatimah? Mari kita jawab dengan hati nurani kita masing-masing. Sudah sampai manakah kita memperjuangkan kebaikan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan? Jangan pernah terburu-buru untuk merasa cukup hingga masing-masing dari diri kita telah dengan suatu keyakinan serta keberkahan menapaki langkah di surga-Nya kelak.
Terakhir penulis hendak menyairkan suatu bait yang mungkin bisa kita renungkan bersama-sama.

“Jika memang kita takut akan neraka-Nya dan merindukan akan harum surga-Nya kelak…Niscaya lembar sejarah kegemilangan akan sangat mungkin untuk terbit kembali dan menerangi bumi ini dengan cahaya kemakmuran…Namun kalaulah surga dan neraka kita pandang sebelah mata…Maka tunggulah hingga tiba saatnya hari pembalasan…Dan tiap-tiap nyawa beserta jasadnya akan diminta kesaksian…serta pertanggungjawaban”




Another Side

21

just a little bit…

me and my complicated path that i got. right now i am really anxious to grow and improved out...surely...for the future!

Event of…

May 2012
M T W T F S S
« Dec    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.