Archive for December, 2008

06
Dec
08

Berdialog dengan Zaman

“…dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’…” (Ali-Imran : 140)

Bagaikan roda yang senantiasa bergulir pada porosnya, zaman senantiasa menawarkan suatu tantangan bagi umat manusia yang hidup pada masanya. Tiap-tiap tantangan, rintangan, cobaan, dan ujian senantiasa meliputi dan menyelimuti serta mewarnai kehidupan yang penuh dengan gemerlap duniawi. Menawarkan tipu daya bagi insan yang terlahir dan menapaki jejak kehidupannya di muka bumi yang fana ini. Ada yang dibinasakan akibat dari perbuatan buruknya yang menyalahi koridor kemuliaan, ada pula yang diselamatkan dan diangkat derajat kebaikannya sampai – sampai nama harumnya senantiasa tersebut dan terucap walau belasan abad telah terlewat. Ingin berada di posisi manakah kita ? Tidak perlu sungkan untuk memilih, walau pada hakikat fitrahnya tiap – tiap pribadi yang memiliki kesalihan pada hatinya akan mendambakan wangi surga yang tiada duanya.

Mari berkaca pada suatu kisah di satu zaman yang dipimpin oleh seorang penguasa dunia yang menganggap dirinya sebagai zat yang patut ditakuti dan disembah oleh sesama makhluk ciptaan, ya dialah fir’aun. Fir’aun menganggap dirinya sebagai pribadi yang berkuasa tanpa batas, memiliki wilayah kekuasaan yang luas, kekuatan militer yang kuat, dan hati nurani yang berkarat oleh karena paradigmanya yang terkufuri oleh tipu daya keburukan. Kejayaannya yang fana tidak berlangsung lama, saat terlahir seorang Musa yang bertujuan menyeimbangkan situasi, meluruskan aqidah, dan menyadarkan para pembangkang akhlakul karimah. Apa yang terjadi ? Tentu saja tak ayal lagi terjadilah benturan antara kebaikan dengan kezaliman. Hasil akhir telak mengakhiri riwayat sang Fir’aun yang terbenam oleh mukjizat sang Musa atas izin sang khalik tentunya.

Akan tetapi pada belahan zaman lain terlahir pula sang khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dalam masa kepemimpinannya mampu menaburkan dan menorehkan kebaikan tiada tara bagi umat manusia. Bayangkan, dalam masa kepemimpinannya yang masih bisa digolongkan singkat yakni sekitar dua tahun lebih lima bulan beliau telah mengeliminasi kebobrokan birokrasi, menyadarkan para kerabat dan pejabat untuk kembali pada tataran amanah yang karimah, mensejahterakan para mustahiq hingga tak ada lagi penerima zakat bagi umatnya yang telah terangkat derajat dan martabatnya. Beliau kini telah tiada tapi nama baiknya terus terucap hingga kini dan nanti.

Ada perbedaan mendasar dari dua kisah kepemimpinan di atas. Ada pemimpin yang memilih untuk menjadi hamba sahaya bagi kesesatan yang menghimpit, namun ada pula pemimpin yang memilih untuk menegakkan kalimatullah dan memakmurkan bumi dengan kemuliaan yang tak terelakkan. Mampukah kita memilih dengan bijak? Di sini letak sorotan yang membutuhkan keteguhan jiwa dan raga. Pilihan senantiasa menghadang, pilihan senantiasa memberikan konsekuensi, pilihan pula yang menjadikan seseorang celaka atau selamat.

Bagaimana dengan kondisi saat ini ? Masih adakah asa yang tersisa ? Silahkan jawab dengan hati nurani yang tegar. Bangsa ini telah dipimpin oleh para pemimpin yang beragam. Telah tercatat pada lembar sejarah perjuangan bangsa yang majemuk ini dalam menegakkan kemerdekaan, setelah dijajah selama lebih dari tiga setengah abad lamanya. Saat para penjajah datang menerjang, tentulah muncul para penegak kebenaran guna menumpas kesewenang – wenangan penjajah tersebut. Berapa banyak nyawa yang telah tercabut, darah yang mengalir, dan air mata kesedihan yang tercucurkan akibat dari perjuangan yang telah terkobar ? Ada yang namanya diabadikan sebagai tokoh sanjungan walau tak sedikit para pejuang yang tak bisa disebutkan namanya satu per satu telah turut serta berjuang dalam kancah pergolakan tersebut.

Itu sejarah masa silam yang telah berlalu seiring berjalannya waktu. Perjuangan mereka telah kita rasakan manfaatnya, namun apakah kita telah membalas perjuangan tersebut dengan prestasi yang sepadan ? Apakah negeri ini telah menjadi negara yang sepenuhnya merdeka ? Akankah terlahir pahlawan yang mampu menjawab tantangan zaman yang terus berkecamuk pada masa kini ? Menjadi bagian dari solusi dari sebuah perkara haruslah dilandasi oleh pola pikir dan pola gerak yang bijak serta sinergis, sehingga implikasi dari suatu cita – cita yang diidamkan mampu terwujud. Mulai dari tiap – tiap individu hingga pada tataran kolektif.

Melalui zaman yang telah berlalu dan yang akan dihadapi, alangkah bijaknya jikalau kita mampu memetik butiran – butiran hikmah yang tersirat dan tersurat agar kita mampu memiliki tolak ukur yang tepat dalam menjawab tantangan zaman. Kita seolah diajak untuk berdialog, nurani kita seperti diketuk, jiwa dan raga seolah hendak bergerak. Persiapkan diri untuk menyambut tantangan tersebut dengan penuh kesiapan serta kesigapan !

Ya tentu saja, bangsa yang siap dalam mengatasi rintangan adalah bangsa yang mampu belajar dan memahami sejarah, situasi, dan kondisi melalui banyak cara yang salah satunya dengan sebuah pendekatan dialog dengan zaman.




Another Side

21

just a little bit…

me and my complicated path that i got. right now i am really anxious to grow and improved out...surely...for the future!

Event of…

December 2008
M T W T F S S
« Nov    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.