Archive for November, 2008

08
Nov
08

63 Tahun Sudah Kita Merdeka

Pada tahun 2008 ini tepatnya pada tanggal 17 di bulan agustus Negara kesatuan Republik Indonesia tercinta ini merayakan dirgahayu kemerdekaan untuk yang ke – 63 tahun. Rakyat pun bersuka cita menyambut perhelatan tahunan ini, bendera merah- putih terkibar, perlombaan digelar, situasi pun menjadi riuh rendah diikuti oleh hiruk-pikuk kegiatan yang menyita perhatian banyak pihak seantero negeri kepulauan ini.

Mari kita merenung sejenak…63 tahun berarti lebih dari separuh abad. Teringat oleh umur seorang suri tauladan umat manusia sepanjang zaman yang pada tahun ke 63 beliau menghembuskan napas terakhirnya di dunia yang fana ini pada kurang- lebih 14 abad silam yang tak lain dan tak bukan beliau adalah junjungan kita rasulullah Muhammad Salallahu’alaihi wassalam. Kita lakukan komparasi, dalam kurun waktu 63 tahun banyak prestasi mengagumkan yang telah beliau torehkan dengan tinta emas, beliau telah menjadi seorang pedagang yang sukses, terkenal jujur dan dipercaya, melintas batas jazirah arab, beliau telah menjadi seorang pemimpin keluarga yang adil, beliau telah menjadi seorang panglima perang yang tangguh, pemimpin negara yang ulung, serta beliau telah mengeluarkan umat manusia dari sifat kejahiliyahan menuju akhlakul karimah, dan lebih dari itu semua, beliau adalah utusan Allah guna membawakan risalah yang menjadi tuntunan umat manusia.

Indonesia…63 tahun sudah merdeka namun agaknya masih banyak hal – hal yang harus kita perhatikan secara seksama. Apakah kita sudah lepas dari jeratan utang negara? Apakah anak – anak bangsa ini sudah terlepas dari ancaman busung lapar? Apakah remaja bangsa ini sudah aman dari terjangan budaya global? Apakah para pemimpin dan wakil rakyat negeri ini sudah amanah dan istiqomah dalam memangku jabatan beserta idealismenya? Apakah para hakim peradilan telah memutuskan perkara secara adil? Apakah kesejahteraan telah meliputi bangsa ini? Silahkan…saya yakin jawaban bisa beragam tergantung mau dari sudut pandang manakah kita melihatnya.

Indonesia dengan luas daratannya yang luar biasa luas dari sabang hingga merauke menempati peringkat empat besar negara terkorup di asia, negara dengan tingkat pengrusakan hutan paling tertinggi di asia tenggara, dan negara dengan kasus busung lapar di tengah – tengah lumbung padi yang terhampar luas di negeri ini, negara dengan tingkat peredaran narkoba yang cukup memprihatinkan dan lain sebagainya. Apa yang sebenarnya terjadi? Di manakah letak kemerdekaan tersebut? Apakah cukup dengan mengibarkan bendera? Menyanyikan lagu indonesia Raya? Mengecat ulang gapura? Menghiasi rumah dan lingkungan dengan pernak – pernik? Dengan segala predikat yang tersandang oleh ibu pertiwi ini?

Agaknya kita harus menyegarkan dan merevisi paradigma berpikir kita. Kemerdekaan bangsa ini didapat melalui perjuangan, pengorbanan, tumpahan darah, cucuran keringat, air mata bahkan nyawa. Lain halnya dengan negara tetangga kita di mana kemerdekaan didapat melalui pemberian. Namun anehnya mengapa kita tertinggal jauh dengan negara-negara tetangga yang notabene berada pada kawasan Asia Tenggara ini. Dari segi pendapatan per kapita, anggaran pendidikan, tingkat kesehatan masyarakat kita cukup tertinggal. Lalu apa yang kita perbuat? Merayakannya?

“ Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Al – A’raf : 96)

Berangkat dari ayat tersebut kita bisa mengambil suatu komponen penting agar bangsa ini bisa terselamatkan. Ibu Marwah Daud bilang “sukses bangsa adalah akumulasi sukses individu” sangatlah tepat dengan tuntunan Al-Qur’an kalau saja para penduduk negeri ini mampu beriman dan bertakwa sesuai dengan tuntunan Qur’an dan Sunnah rasulullah maka harapan itu tentulah masih ada. Kalau saja penduduk negeri ini mampu membuang sampah pada tempatnya, tidak merokok sembarangan atau bahkan berhenti merokok, jujur dalam berdagang dan mengemban amanah, disiplin dalam segala lini kehidupan maka kita bisa bangkit! Bangkit dari keterpurukan!

Jim Collins mengatakan “good is the enemy of great” kalau diri saya berpendapat “hey we are not yet good enough, but WE CAN SURELY BECOME GREAT! Mengapa demikian? Karena kita memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, potensi sumber daya manusia strategis, wilayah daratan subur nan hijau bahkan jika dilihat melalui pesawat udara negeri kita ini bagaikan zamrud khatulistiwa dan wilayah maritim yang strategis, serta yang tak kalah penting yaitu kita merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Banyak hal yang bisa kita perbuat demi terciptanya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Salah satunya kita bisa memulai untuk memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu.

Sebagaimana merujuk pada Qur’an surat Al-a’raf ayat : 96 di atas, maka jikalau saja kita bisa mengarahkan negeri ini menuju pada tataran yang Allah ridhoi maka kebangkitan dan kejayaan Islam akan kembali tegak di muka bumi ini.

Wallahua’lam bi showab…

Tulisan oleh : Dipha Aulia Midian (Peserta PPSDMS angkatan IV regional II Bandung)

06
Nov
08

Idealitas Pemuda

Wahai kalian yang rindu kemenangan…

Wahai kalian yang turun ke jalan…

Demi mempersembahkan jiwa dan raga…

Untuk negeri tercinta…

Jika membaca rangkaian kata-kata tersebut di atas maka tak pelak lagi jiwa-jiwa yang merindukan sebuah impian untuk menggapai kejayaan dan kedigdayaan akan terpanggil, tergerak, dan terenyuh, seketika menyingsingkan lengan baju dan kemudian maju berjibaku menuju pada tataran perjuangan dengan harapan akan terbentuknya keadaan yang diidamkan.

Mari merenung sejenak dan tentukan faktor apakah yang harus dipenuhi agar kejayaan dan kedigdayaan tersebut bisa digapai. Tentu saja faktor penggerak! adalah yang kita butuhkan sebagaimana sebuah mesin kendaraan bermotor yang membutuhkan sumber energi bahan bakar. Faktor penggerak yang hendak saya soroti adalah pemuda yang memiliki idealisme kokoh guna mengemban tugas-tugas yang berat di antaranya yaitu membangun peradaban yang gilang-gemilang. Idealisme kokoh tersebut haruslah bersih dan suci, bersih dari kepentingan dunia dan ambisi pribadi yang bersifat pragmatis. Tentu saja tanpa kesucian niat dalam bergerak maka yang kita dapat hanyalah penyakit sebagaimana yang kita semua rasakan saat ini, korupsi merajalela bagaikan adat yang dibiasakan, pungutan liar yang memberatkan para pengusaha dan pelaku ekonomi, birokrasi yang penuh dengan intrik penyelewengan dan lain sebagainya.

Bagaikan menjalani babak baru era penjajahan kita disibukkan oleh ulah para pelaku pengrusakkan segala lini kehidupan bangsa ini mulai dari politik dagang sapi, ekonomi biaya tinggi tanpa diikuti daya beli yang mumpuni, pertahanan dan keamanan yang terus meradang akibat konflik horizontal dan keterbatasan kekuatan militer, tentu saja masih banyak lagi. Pertanyaannya? Sampai kapankah kita semua akan bertahan dalam kondisi memprihatinkan sebagaimana termaktub di atas? Langkah strategis apa yang harus kita perbuat? Di mana peran strategis para pemuda guna memperbaiki keburukan menuju pada babak kegemilangan yang hakiki?

Pada tahun 1928 tepatnya 80 tahun yang lalu para pemuda pejuang yang berasal dari berbagai penjuru negeri ini mengikrarkan sebuah sumpah yang menjadi suatu tonggak pemersatu kekuatan negeri ini. Yang penulis maksud jelaslah sumpah pemuda yang hingga kini senantiasa kita kenang dan dengungkan tiap tahunnya. Pengorbanan yang luar biasa telah ditempuh oleh para pemuda pada zaman mereka. Berjuang demi sebuah asa yang tertanam pada benak tiap pelakunya. Itulah pemuda! Sebegitu pentingnya peran strategis pemuda sebagai sumber daya manusia potensial dalam menggerakkan roda kemajuan era, hingga seorang bapak proklamator kita Soekarno berkata Beri saya sepuluh orang pemuda, maka akan kuubah dunia!” seperti itulah hakikat guna dari kaum pemuda. Dia menjadi bagian dari suatu solusi yang kontributif, inovatif, progresif dan revolusioner, memiliki semangat dan daya juang yang luar biasa hingga dunia pun takluk olehnya.

Berjuang demi tegaknya sebuah cita-cita membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Mengorbankan harta dan jiwa merupakan suatu keniscayaan, jika kita berbicara mengenai suatu tindakan nyata yang dibutuhkan. Jika melihat kembali penggalan kata pembuka di atas, untaian kata-kata tersebut lebih bersifat panggilan, panggilan untuk senantiasa memacu dan memicu segenap jiwa dan raga demi sebuah kebaiakan. Dan kata-kata turun ke jalan di sana jangan juga diartikan secara sempit dan denotatif yang dimaksud dengan turun ke jalan bisa berupa tindakan untuk meniti jalan yang lurus, jalan untuk berjuang, melalui karya nyata yang bisa dibanggakan dan dirasakan oleh segenap negeri ini.

Namun sedikit berkaca pada sebagian pemuda pada masa kekinian. Ketimbang membangun peradaban dan berjuang untuk lepas dari imperialisme modern. Para pemuda kini justru menyimpan banyak masalah. Sejauh ini masalah mereka hanya berkisar pada kebutuhan pribadi, materi yang kurang dan dunia hiburan yang memabukkan. Lebih dari itu, mereka hanya disibukkan pada masalah cinta semu, tontonan cengeng percintaan dangkal dan pembebasan syahwat, tren gaya berpakaian dan kemewahan yang berubah-ubah, serta menikmati jenis musik yang membuat mereka rela berdesak-desakkan hingga terinjak dan mati sia-sia. Tak terngiang sedikit pun sebuah kepedulian nyata terhadap kondisi bangsa yang kian terpuruk. Layakkah hal-hal semacam itu melekat pada diri para kaum pemuka perubahan? Tentu saja jawabannya adalah TIDAK!

Berangkat dari sebuah keyakinan bahwa masih ada bagian lain dari umat ini yang memiliki keberanian dan kepedulian untuk mengatasi keadaan. Menyingsingkan rasa lelah dan maju menghadapi panggung kehidupan yang diliputi oleh ketidaknyamanan. Hingga terbentuknya sebuah zaman kejayaan. Kita para pemuda pasti bisa! Karena kita adalah pewaris peradaban.

Mari kita simak bersama kutipan mutiara dari Dr. Raghib As-Sirjani seorang cendekiawan muslim yang juga sebagai tokoh pemerhati masalah umat menitipkan untaian kebijaksanaan kepada para pejuang yang dibanggakannya beliau berkata Para remaja yang kami cintai…ketika terbersit di hatimu hasrat untuk meraih sukses dunia juga akhirat. Segera mulailah dengan menata hasrat ini menjadi sebuah tujuan besar dalam hidupmu. Serasikan amal perbuatanmu dengannya. Lalu istiqomahlah! Berusaha untuk menjaganya. Jika engkau ingin umat ini maju. Jika engkau ingin mengembalikan kejayaan hakiki. Jika engkau ingin memisahkan kehinaan, kemunduran dan kehancuran yang terus menempel pada tubuh umat ini. Mulailah dari sekarang! Jangan engkau tunda, jangan engkau menyerah dengan tantangan yang menghadang. Mulai! Dan Allah akan segera membuka pintu rahmat untukmu…”




Another Side

21

just a little bit…

me and my complicated path that i got. right now i am really anxious to grow and improved out...surely...for the future!

Event of…

November 2008
M T W T F S S
« Sep   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.