…mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali) (Qs Al-Baqarah : 156). Di bulan ramadhan kita melakukan sesuatu tindakan di luar kebiasaan sehari-hari sebagaimana di bulan-bulan yang lain. Ya, mulai dari subuh hingga maghrib kita menahan diri dari lapar dan dahaga. Tidak hanya itu kita pun diwajibkan untuk berpuasa, menahan bathin kita dari tindakan yang bersifat sia-sia seperti marah, menggunjing, melontarkan kata-kata kasar dan terutama lagi kita harus menahan hati kita dari prasangka yang buruk.
Hari demi hari pun dijalani dengan penuh perjuangan dalam menahan hal-hal yang diharamkan, dengan penuh kesabaran dan niat yang tulus demi menggapai suatu kebaikan terutama dari Allah sang khalik pemilik semesta alam. Di dalam aktivitas berpuasa ini, diharapkan kita mampu mencapai suatu kondisi perbaikan ruhiyah yang selanjutnya tataran derajat ketaqwaan pun kita reguk sebagai suatu kenikmatan hikmah di balik perjuangan di bulan ramadhan tersebut.
Yang perlu digaris bawahi dari bulan ramadhan ini adalah aturan main yang mengikat para pemeluknya khususnya kaum muslimin, dan tidak sedikit pula orang yang menjadikan bulan ini sebagai titik balik untuk memperbaiki diri, baik secara lahir maupun bathin. Selama sebelas bulan sebelumnya banyak kekhilafan yang tertindak dan terucap baik sengaja maupun tidak sengaja. Seringkali kaum muslimin menjadi ahli ibadah. Bersabar di siang hari dan bertarawih di malam hari. Sejatinya kita bertujuan untuk berbekal guna menjalani hari esok pada bulan-bulan berikutnya dengan penuh kehati-hatian. Kita menjadikan satu bulan tersebut sebagai momentum perjuangan melawan keburukan dan kemaksiatan hingga kembalinya diri ini pada fitrah awalnya yang bersih dan suci dari noda ruhani maupun jasadi.
Betapa kegembiraan itu pun terlengkapi dengan ibadah-ibadah baik yang sifatnya diwajibkan maupun yang di sunnahkan. Terutama di sepuluh malam terakhir yang ditengarai di antara malam-malam tersebut terdapat malam lailatul qadar. Malam keberkahan yang setara dengan seribu bulan. Di bulan ini pun kita diperintahkan untuk berbagi kepada sesama melalui mekanisme zakat yang akan dibagikan pada pihak-pihak yang membutuhkannya dan pada akhirnya bulan ini pun ditutup dengan saling bermaaf-maafan satu sama lain.
Ada kegembiraan dalam menyambut bulan ramadhan yang penuh dengan keberkahan yang indah ini dan ada kesedihan yang cukup mendalam saat bulan ramadhan berada pada pucuk akhir perjalanannya. karena ada kekhawatiran bahwa mungkin kita tidak akan dipertemukan kembali oleh bulan yang penuh dengan ampunan ini di tahun berikutnya. Ada pernyatan yang menyatakan bahwa ramadhan pergi meninggalkan kita. Oh ya? Benarkah demikian? Ada beragam pendapat dalam menggapi pernyataan tersebut, salah satu di antaranya adalah sebetulnya ramadhankah yang meninggalkan kita? atau diri kita inikah yang meninggalkan ramadhan? Sejujurnya penulis berpendapat bahwa di bulan ramadhan kita dididik untuk senantiasa disiplin, berkomitmen, memiliki rasa kepekaan dan kepedulian dan yang paling utama adalah kita mampu mengendalikan diri guna mencapai tataran kondisi paripurna yang diridhoi oleh Allah azza wa jalla. Dari pendidikan tersebut diharapkan adanya suatu nilai yang senantiasa berbekas pada diri tiap-tiap orang yang menjalaninya dengan penuh ketaatan dan keikhlasan.
Kalau memang kita mampu menjaga diri kita dari hal-hal yang diharamkan dengan segala daya dan upaya yang terejawantahkan dalam kehidupan sosial kita sehari-hari khususnya di bulan ramadhan yang penuh dengan peraturannya yang menyeluruh. Kita pun seharusnya mampu mereduksi efek negatif pada bulan-bulan berikutnya dengan menjadikan diri yang sudah terbekalkan melalui satu bulan yang penuh dengan perjuangan (ramadhan). Kita pimpin diri kita masing-masing menuju pada ketaqwaan pribadi dan sosial yang sudah terbentuk pada saat ramadhan tadi sehingga jelas klita senantiasa menghadirkan ramadhan pada hati dan jiwa kita walaupun bulan itu sudah terlewat.
Mulai dari momentum ramadhan kita lalui sebuah alur kehidupan yang penuh dengan lika-liku hikmah dan perjuangan. Perjuangan untuk menanamkan kebaikan jati diri, kejujuran terjunjung tinggi dan kebaikan pun tertebar pada segala lini kehidupan yang fana ini. Guna membekali diri yang tidak hanya untuk sekedar menghadapi kemilau dunia yang membutakan hati tiap pribadi. Namun juga sebagai bekal saat kita sudah terlelap selamanya, terbungkus oleh kain kafan, dan terkubur di dalam ruang gelap yang rapat.
Sudah sampai manakah kesiapan kita saat kelak menghadapi pengadilan yang tidak akan terelakkan bagi tiap insan bernyawa yang pernah menapaki kehidupan di bumi yang luas ini? Akankah kita kambali dalam keadaan su’ul khatimah ataukah dalam tatanan khusnul khatimah? Mari kita jawab dengan hati nurani kita masing-masing. Sudah sampai manakah kita memperjuangkan kebaikan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan? Jangan pernah terburu-buru untuk merasa cukup hingga masing-masing dari diri kita telah dengan suatu keyakinan serta keberkahan menapaki langkah di surga-Nya kelak.
Terakhir penulis hendak menyairkan suatu bait yang mungkin bisa kita renungkan bersama-sama.
“Jika memang kita takut akan neraka-Nya dan merindukan akan harum surga-Nya kelak…Niscaya lembar sejarah kegemilangan akan sangat mungkin untuk terbit kembali dan menerangi bumi ini dengan cahaya kemakmuran…Namun kalaulah surga dan neraka kita pandang sebelah mata…Maka tunggulah hingga tiba saatnya hari pembalasan…Dan tiap-tiap nyawa beserta jasadnya akan diminta kesaksian…serta pertanggungjawaban”
